Articles by "RUBRIK ALUMNI"

Sumber: https://islam-institute.com/
Bagi para santri, alumni maupun masyarakat secara umum yang berkenan mengirimkan artikel dalam bentuk tulisan gagasan / opini maupun berita personal (citizen journalism) dapat disampaikan melalui email : email@pondokgomang.com atau pondokgomangcom@gmail.com. Tim Pondok Gomang akan menyeleksi dan memuat tulisan sebelum ditayangkan.

Sifat tulisan bebas, panjang minimal 600 kata. Ditulis menggunakan bahasa yang luwes dan mudah dipahami. Penulis juga dapat melampirkan foto pribadi maupun foto ilustrasi tulisan dengan mencantumkan link sumber ilustrasi (jika ada).

Pengiriman Artikel / Berita juga dapat melalui Link ini :



Tulisan ini disalin dari status Nawa Muhammad pada akun media sosialnya. Inspiratif, dan sarat makna sebagai kenangan ke-santrian:

Saya masuk MI di usia 5 Th setelah dua tahun belajar di TK. Seingat saya, ketika masuk TK itu saya sudah bisa membaca dan menulis Arab karena di rumah diajari Bapak dan Emak. Dalam hal makhroj huruf dan tajwid, Bapak, bagi saya adalah sebuah TEROR yg kelewat ketat dan perfeksionis. Belakangan saya beruntung pernah di Teror Bapak karena itu membantu saya ketika ngaji Alquran ke Guru2 saya.

Saya gonta ganti Guru ngaji di Langgar (Musholla). Dari Pak Shoib, Pak Jadi, Pak Ngali (Ali), Pak Munji, dan Pak As'ad. Dua nama terahir yang paling lama mengajari saya membaca Alquran waktu kecil sampai saya khatam. Mereka orang2 istimewa yang menjadikan saya cukup lancar ngaji bahkan 2 kali saya menjadi juara Baca Alquran tingkat SD-MI se Kab. Rembang. Waktu itu, dalam penilaian saya, hampir tak ada lawan berarti kecuali 2 perwakilan. Yang satu dari Kec. Lasem satunya lagi dari Kec. Sedan. Dua kecamatan yang memang punya tradisi keagamaan yang sangat kuat mengakar hingga sekarang. Saya, Alhamdulillah, beruntung aja.

Lulus MI saya ke Kajen. Berbekal sudah hatam Alquran dan pernah jadi juara pula, saya pede bukan main. Saya dapat Guru Kang Rofiq Alhafidz, santri senior yang sudah hafal Alquran yang bertugas membimbing ngaji Quran santri baru.

Di hadapan Kang Rofiq ke-pede-an saya runtuh, dan nampaknya itu adalah hantaman psikologis pertama yang saya alami dalam ngaji Quran. Makhroj (pelafalan huruf) saya salah semua. Selama berhari-hari saya hanya disuruh mengulang-ulang Alfatekah dan Tahiyyat. Dan itupun salah2 terus. Ya Allaaaaaah.. baru setelah minggu keempat saya dijini memulai dari Albaqoroh.

Setelah khatam di Kang Rofiq, saya ngaji ke Abah KH. Ahmad Zaki Abdillah Alhafidz. Saya merasa level saya sudah naik karena ngaji Quran langsung ke Kyai. Ternyata, di hadapan Abah Zaki salah salah lagi juga bacaan saya. Keterlaluan goblog nampaknya saya ini.

Tak lama saya ngaji ke Abah Zaki karena saya harus pindah pondok ke Pondok Gomang Jatim. Di sini, saya ngaji langsung ke Ibu Ny. Hj. Ani Zakiyati. Santri Kyai Arwani Kudus. Bekal ngaji di rumah dan Kajen rupanya tak cukup membuat saya lolos dari kesalahan baca. Masih aja saya sering salah di hadapan Ibu Nyai. Sampai kadang ya kudu nangis sekaligus kudu tertawa.

Hatam di Ibu, saya, Alhamdulillah, dipercaya ikut membimbing santri2 anyaran ngaji Alquran. Saya merasa reputasi saya dalam membaca Alquran cukup bagus. Saya punya alasan kuat untuk mendukung rasa pede saya itu : Jika sedang Udzur, Ibu sering menugaskan saya menggantikan beliau menyimak ngaji santri. Termasuk mbak-mbak santri juga. Hehe..

Saya kemudian kuliah. Untuk mengisi waktu kosong sore hari, saya ikut ngaji Alquran di Madrasah Al-Aydrus. Saya diajar Ust. Ahmad An-Najjar. Waduh waduh.. amburadul sekali bacaan saya. Saya bukan hanya diajar, tapi diHAJAR. Kho, qof, kha, ghin, ro, dhod, dho, jim, dho, saya hancur lebur. Dibentak2 saya oleh Ustadz muda yg nampaknya tak jauh2 dari saya usianya. Umumnya bukan kesalahan makhroj, namun peletakan sifat huruf. Beberapa yg makhroj dan sekaligus sifat seingat saya adalah Jim, Dhod, Kho. Runtuh bangunan ke-pede-an saya (atau KESOMBONGAN ?). Saya yg sudah pernah ngajar ngaji di salah-salahin begitu rupa. Itu komedi-tragedi, menyedihkan sekaligus lucu.

Dua tahun saya di Qism Tahfidz dan baru sampai Juz 20 an lalu saya fakum dari Madrasah. Setelah 2 th lamanya berhent, saya masuk Lagi kemudian ke Madrasah Aydrus. Kali ini bukan di Qism Tahfidz, tapi di Qism Qiroah. Saya pengen bisa Qiroah Sab'ah (tujuh jalur pokok riwayat pembacaan Alquran yang dianggap kredibel) . Saya ketemu Ustad Bajahhaf. Ustadz muda yang tergolong Master Qiroah Sab'ah di Madrasah ini. Ketemu dengan beliau, tambah Parah lagi banyaknya kesalahan yang harus saya benahi. Amburadul sekali Bacaan Alquran saya. Kapan saya harus mringis, kapan harus mecucu, kapan harus agak sedikit mrengut dsb. Tak lama saya diajar beliau karena beliau harus ke Malaysia. Setelah itu saya gonta ganti Ustadz, dari sejak Ustadz Ali, Ust. Abdurrahman, dll. Dan selalu banyak sekali kesalahan baca yang harus saya beresin. Saya mulai menikmati disiplin ketat penerapan Makhroj dan Sifat. Sayang, saya tak selesai. Saya sudah keburu duluan lulus kuliah (setelah perjuangan berdarah2. Hehe..) sebelum khatam. Saya tak seberuntung Kyai Ahsan Milal atau Syaikh Mamo Treem Elboyany , Syaikh Andre Vratama yang sampai selesai 7 Qiroah. Bahkan Syaikh Mamo nampaknya 14 Qiroah (perlu konfirmasi). Tapi saya syukuri betul Ilmu Qiroah yg saya dapatkan dari sana.

Dulu waktu masih di Pondok, saya kelewat idealis. Barangkali karena saya merasa saya adalah salah satu Guru Alquran yang cukup punya reputasi, hafal Nadhom Jazariyyah, seringkali saya menilai kualitas seseorang dari bagaimana dia melafadzkan huruf2 arab. Saya juga sering mufaroqoh (niat berpisah dari Imam Sholat) jika saya nilai Bacaan Imamnya bermasalah.

Pengalaman saya di HAJAR oleh Guru2 ngaji Qiroah itu membuat saya tahu diri bahwa saya ini rupanya masih GOBLOG. Dan itu membekas sekali setelah saya pulang dari kuliah. Saya lebih mudah memaklumi bacaan Quran yang saya nilai tak tepat dan kadang-kadang merasa Geli jika ada orang merasa paling Fasih dan menghukumi Sholat seseorang tak sah karena bacaan Fatekahnya bermasalah. Pikir saya : KAMU JUGA PALING GA FASIH.


Gempa bumi yang terjadi di Sulawesi merupakan pengingat bagi kita semua. Bahwa Allah SWT tidak sekalipun melupakan Hamba Nya. Tidakkah kita mengetahui hal ini dari Firman Nya? Tentunya, dibalik musibah selalu tersimpan hikmah.

Segenap keluarga besar PondokGomang.Com turut berbela sungkawa atas kejadian gempa bumi di Sulawesi. Semoga Saudara-Saudara kita disana diberikan ketabahan dan diberikan jalan terbaik dari Allah SWT.



Catatan ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh gencarnya pemberitaan media yang belakangan ini mengemuka. Berbagai manuver politik dilakukan oleh elit nasional menyongsong Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Memang demikianlah faktanya, dinamika kehidupan perpolitikan tanah air perlu ‘dihidupkan’ melalui berbagai cara, termasuk pembelajaran bagaimana berkomunikasi dan membangun komitmen politik.

Tentu, cara-cara yang digunakan para elit politik memiliki style yang tidak sama. Sesungguhnya itulah ‘seni’ nya politik. Demikian beberapa kalangan menyebutnya, termasuk saya. Adakalanya sikap politik juga diartikan sebagai sikap yang “abu-abu” (tidak jelas). Namun bagi saya tidak. Sikap politik lebih dilandasi pada sikap batin untuk menentukan arah dan tujuan ke depan. Bukan semata-mata bergantung pada ketidakjelasan.

Bila kini publik secara umum dapat menyaksikan langsung proses politik tersebut lantaran media gencar memberitakan, saya justru membayangkan bagaimana proses politik yang diambil oleh para pendahulu? Demikian pula kah kondisinya? Hal yang pasti dapat ditelaah adalah cerita-cerita politik Nusantara yang kini diwariskan. Sebenarnya ada pelajaran berharga jika kita mau lebih dalam memberikan makna dari apa yang telah dilakukan pendahulu kita.

Salah satu cerita yang ‘masyhur’ pernah terjadi adalah bagaimana seorang “Petruk” bisa menjadi “Ratu”. Petruk yang digambarkan sebagai “Punakawan”, bukan ber trah bangsawan, namun dapat menguasai “keprabon” sebagai Ratu. Terlepas kebenaran dari cerita tersebut, saya memandang ada hal penting yang digambarkan.

Pertama, dari sisi masanya, era kerajaan yang menganut sistem dinasti mengutamakan garis keturunan sebagai parameter menduduki jabatan publik. Apalagi pada posisi Ratu. Dengan kata lain, tidak sembarang orang dapat menjadi Ratu. Hanya mereka yang memiliki “trah” lah yang dapat menduduki jabatan publik tersebut. Bagamaina dengan Petruk? Fenomena Petruk yang bukan trah bangsawan namun dapat menjadi Ratu menurut saya ada nilai transisi sistem dinasti. Meski tidak lama, namun cukup menjadi catatan (kala itu), bahwa bukan trah bangsawan pernah menjadi Ratu.

Kedua, dari alur cerita yang digambarkan, Petruk menjadi Ratu karena memegang “Jimat Kalimosodo”. ‘Ageman’ yang bukan sembarang orang memiliki. Pusaka yang diyakini mampu menaklukkan seantero negeri. Terbukti, berbekal Jimat Kalimosodo itulah yang turut mengantarkan Petruk menjadi Ratu. Pada beberapa cerita, Jimat Kalimosodo dikiaskan berbentuk barang dan bisa dibawa kemana-mana. Namun menurut saya Jimat Kalimosodo dalam cerita itu lebih mengarah pada “Ilmu Yakin”.

Kalimosodo merupakan terminologi bahasa Jawa, yang jika diurai merupakan “Kalimat Syahadat”. Secara etimologis, Syahadat berasal dari kata bahasa Arab yaitu syahida(شهد) yang artinya "ia telah menyaksikan". Kalimat itu dalam syariat Islam adalah sebuah pernyataan kepercayaan sekaligus pengakuan akan keesaan Allah dan Nabi Muhammad sebagai Rosul Allah. Dalam tataran ini, ada dua persaksian, yakni menyaksikan bahwa “Tiada Tuhan Selain Allah” dan persaksian bahwa Nabi “Muhammad adalah Utusan Allah”. Maka dikenal pula sebagai Syahadatain (dua kalimah Syahadat) yaitu “Syahadat Tauhid” dan “Syahadat Rosul”.

Lebih lanjut, ungkapan kesaksian “saya bersaksi”, sesungguhnya merupakan pernyataan personal, bahwa menyaksikan. Maka, persaksian yang bagaimana? Padahal secara teori, menyaksikan merupakan proses mengetahui, melihat, mengalami atau mendengar. Itulah yang dalam catatan sebelumnya saya katakan sebagai “Ilmu Yakin”. Tidak mengetahui, tidak melihat, tidak mengalami atau tidak mendengar (secara langsung) namun menyaksikan. Jika tidak berbekal keyakinan tentu tidak berani menyatakan. Sungguh nilai keimanan yang luar biasa besarnya.

Maknanya, Jimat Kalimosodo lebih mengarah pada nilai-nilai agama, khususnya agama Islam. Bagaimana dalam konteks politik? Mengacu pada cerita Petruk dadi Ratu di atas, maka salah satu landasan sikap politik adalah seberapa jauh (ajaran) agama menggariskan. Tidak serta merta menghalalkan segala cara. Dan mungkin itu pula yang ditempuh oleh Petruk saat itu. Makna yang lain, bahwa dalam politik butuh sebuah keyakinan. Keyakinan bahwa jika Allah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Keyakinan yang tentunya diimbangi dengan upaya maksimal meraih sesuatu yang dicita-citakan. Bahkan, dalam beberapa qoul ulama’, salah satu tanda dikabulkannya doa adalah yang diimbangi dengan rasa yakin bahwa Allah pasti mengabulkan.

Dikaitkan dengan hiruk pikuk perpolitikan saat ini, saya melihat ada benang merah yang dapat diambil dari cerita Petruk dadi Ratu. Fenomena saling berkomunikasi lintas partai dan membangun koalisi pada dasarnya merupakan penuangan falsafah “keyakinan”. Saling percaya dan menjaga kepercayaan. Tidak mungkin tercapai suatu konsensus politik jika tidak dibarengi dengan rasa percaya di antara tokoh-tokoh politik. Apalagi, sistem kita mensyaratkan seorang calon Presiden diusung oleh Partai Politik maupun gabung Partai Politik. Jadi modal keyakinan dalam membangun komitmen politik menjadi hal terpenting untuk mengantarkan figur “Ratu” (read: Presiden).

Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung oleh rakyat merupakan salah satu amanat sistem demokrasi Indonesia. Begitulah pranata yang dipilih oleh bangsa Indonesia. Karenanya, penghormatan terhadap sistem dalam bentuk proses politik tersebut sepatutnya dihargai oleh seluruh elemen masyarakat. Termasuk dalam proses itu berwujud kebebasan menuangkan ide, gagasan dan menyuarakannya di hadapan publik. Negara menjamin kebebasan warga negara dalam berserikat dan berkumpul. Bahkan, tertuang sebagai fundamental right dan merupakan salah satu substansi konstitusi. Maka, bebas berpartai apa pun dan menjalin komunikasi politik dengan siapa pun selama dalam koridor tatanan sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jimat Kalimosodo, dalam konteks politik nasional menurut saya dapat dimaknai sebagai partai-partai yang bernafaskan Islam. Tentu masyarakat memahami corak masing-masing partai politik yang pada tahun 2019 menjadi kontestan. Sebagai catatan saya, partai bernafaskan Islam tersebut adalah satu kesatuan “Kalimosodo”. Namun satu kesatuan ini terdiri dari dua elemen. Sebab Syahadat terdiri dari dua aspek. Jika salah satu elemen dipisahkan apa yang terjadi? Wallahu A’lam.

Beberapa survey menyuarakan, bahwa salah satu tema yang diangkat pada saat proses Pilkada serentak beberapa waktu lalu dilatarbelakangi dari aspek agama. Bukan bermaksud SARA, namun itulah yang terjadi. Maka sebagai bagian dari masyarakat yang beragama, tentunya saya pribadi menaruh harapan besar pada tokoh-tokoh yang tidak menanggalkan etika dan nilai agama dalam berpolitik. Saya yakin, jika itu yang dilakukan, Insyaallah akan membawa kebaikan. 

Sumber Ilustrasi : Link


Dr. RM. Armaya Mangkunegara, S.H., M.H.

“Dari Asia, Indonesia ‘Mendunia’”,begitulah kiranya ungkapan yang tepat untuk menggambarkan pikiran yang terbesit dalam benak penulis saat ini. Tentu bukan tanpa alasan, bukan pula sebatas harapan yang tidak diimbangi dengan kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Momentum sebagai penyelenggara perhelatan akbar negara-negara Asia hampir dapat dipastikan telah melalui serangkaian proses seleksi yang ketat dan memperhitungkan berbagai faktor. Faktual, pilihan Dewan Olimpiade Asia (Olympic Council of Asia/OCA) pada akhirnya jatuh di Indonesia.

Sejarah mencatat, Indonesia kedua kalinya di tahun 2018 ini sebagai penyelenggara Asian Games XVIII yang sedianya digelar pada tanggal 18 Agustus 2018 sampai dengan tanggal 2 September 2018 di dua kota, Jakarta dan Palembang. Pada tahun 1962, dalam kurun waktu tanggal 24 Agustus 1962 hingga tanggal 4 September 1962, Indonesia pun tercatat sebagai tuan rumah Asian Games IV. Praktis, fakta ini menunjukkan bahwa keberadaan Indonesia ‘diperhitungkan’ di kancah internasional. Terlebih tidak sedikit anggaran yang terserap untuk mempersiapkan event besar tersebut. Berdasarkan data, Pemerintah menganggarkan sebesar Rp 3 Triliun untuk agenda itu.

Mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial yang merupakan nilai luhur serta tujuan bangsa Indonesia memerlukan bentuk konkrit dalam pelaksanaannya. Satu di antara sekian banyak upaya pelaksanaan tujuan nasional tersebut dilakukan melalui ‘ajang silaturrahim’ negara-negara Asia berwadah Asian Games XVIII. Jadi pada dasarnya, anggaran besar yang dikeluarkan oleh negara untuk menyongsong agenda tersebut tidaklah sebanding dengan besarnya tujuan bangsa Indonesia untuk menciptakan perdamaian dunia yang abadi. Dari sudut pandang internal, mempersiapkan putra-putri terbaik sebagai delegasi Indonesia juga bentuk upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Elemen bangsa yang cerdas, tentu tidak tinggal diam melihat perjuangan yang dilakukan oleh para atlet bertalenta yang bertindak untuk dan atas nama Indonesia melalui cabang olahraga. Adat “gugur gunung” atau lazim disebut gotong-royong yang juga tersemat pada sila ke-3 Pancasila pada hakikatnya sudah membudaya. Tradisi ini telah lama bersemayam di jiwa bangsa Indonesia sejak penjajahan hingga pasca kemerdekaan. Memberi dukungan, tidak sebatas berbentuk materiil. Dukungan moril dari seluruh tumpah darah Indonesia sebenarnya juga menjadi faktor keberhasilan prestasi negeri kita. Sependapat dengan pernyataan Presiden Republik Indonesia bahwa AsianGames XVIII tidaklah semata ‘gawe’ nya Pemerintah, namun juga pekerjaan rumah seluruh rakyat Indonesia. Sehingga wajar, dengan segala kemampuan yang dimiliki, rakyat Indonesia berlandaskan jaminan kebebasan berhak mengutarakan dukungan dan pendapat melalui berbagai bentuk dalam media yang ada.

Sebagaimana diketahui, Asian Games XVIII dilaksanakan tepat sehari setelah peringatan kemerdekaan Indonesia. Entah kesengajaan atau hanya sebatas kebetulan, Asian Games ke -18, dilaksanakan mulai tanggal 18 Agustus Tahun 2018, harapannya tetap yang terbaik untuk Indonesia. 18 Agustus 1945, Indonesia mulai melakukan penataan terhadap piranti kenegaraan setelah pada tanggal 17 Agustus 1945 resmi diproklamirkan kemerdekaannya. Proklamasi kemerdekaan tentu bukan perkara ‘gampang’. Perjuangan merebut kemerdekaan itulah yang menentukan arah kehidupan bangsa saat itu. Fakta sejarah menunjukkan bahwa sekian banyak pahlawan kemerdekaan bahu-membahu dengan satu tujuan, terciptanya negara yang berdaulat, adil dan makmur. Bisa dibayangkan betapa nilai-nilai persatuan yang ditunjukkan oleh para pendahulu sungguh besar dan diikuti dengan kebesaran jiwa pula. Bagaimana tidak, pangkal perjuangan dengan ditandai proklamasi kemerdekaan oleh Soekarno-Hatta (Proklamator), sama sekali tidak menuai protes berkepanjangan. Pejuang lain yang juga mengorbankan harta, tenaga serta pikiran “legowo” proklamasi diucapkan oleh beliau. Bahkan, gelora proklamasi didukung secara antusias oleh semua elemen masyarakat Indonesia. Konteks seperti inilah yang seyogianya juga dilakukan pada event berbasis sportifitas bertajuk Asian Games XVIII.

Apresiasi Prestasi
Siapa pun yang terpilih sebagai atlet mewakili Indonesia pada ajang Asian Games XVIII merupakan generasi terbaik bangsa. Mereka akan berjuang sekuat tenaga untuk dapat menorehkan prestasi bagi negara. Maka selayaknya mereka pun patut mendapatkan apresiasi dari apa yang mereka lakukan, serupa dengan tanda jasa kepahlawanan pada era merebut kemerdekaan.

Gubernur Jawa Timur pada beberapa kesempatan menyampaikan akan memberikan bonus khusus bagi para atlet khususnya putra daerah Jawa Timur jika mendapatkan medali pada Asian Games XVIII. Penulis menilai tawaran ini merupakan salah satu bentuk apresiasi dari Pemerintah khususnya Provinsi Jawa Timur untuk turut mensukseskan perhelatan olahraga akbar tersebut. Setidaknya, iming-iming yang diberikan dapat menjadi pemacu semangat atlet untuk berlaga maksimal sesuai cabang olahraga masing-masing.

Mengantarkan atlet menjadi juara tidak cukup hanya sebatas tawaran atas hasil akhir yang diperoleh. Dukungan program pelatihan juga dibutuhkan guna menggembleng kemampuan atlet pada masing-masing cabang olahraga. Ini pula yang dilakukan Jawa Timur menyongsong Asian GamesXVIII. Jer Basuki Mawa Bea, sudah pasti apa yang dilakukan itu memerlukan anggaran yang tidak sedikit. Namun Jawa Timur tidak diragukan mengenai kesiapan anggaran. Terlebih, kota Surabaya (Jawa Timur) bahkan pernah menjadi nominasi penyelenggara Asian Games XVIII ini.


Pemberdayaan Soft Skill Atlet
Hal lain yang tidak kalah penting untuk dipikirkan adalah bagaimana meningkatkan taraf hidup atlet pasca laga. Apa pun hasil yang didapat, para pejuang olahraga sudah menunjukkan dedikasi yang tinggi bagi bangsanya. Maka negara layak juga memberikan perhatian khusus bagi mereka. Realita menunjukkan, tidak sedikit ‘mantan’ atlet yang kehidupannya pas-pasan, bahkan bertaraf menengah ke bawah. Ironi ini adalah gambaran bahwa pemberdayaan ekonomi atlet ke depan perlu diarahkan. Setidaknya ada perhatian khusus dibanding yang bukan atlet. Pemberdayaan ekonomi atlet dan mantan atlet akan memicu generasi ke depan untuk berbuat yang terbaik melalui sektor olahraga.

Pemberdayaan atlet dalam dunia usaha tentu tidak serta merta menjadi tanggungjawab satu pihak saja. Indonesia dengan heterogenitas sumber daya nya memiliki sektor-sektor khusus yang dapat dimanfaatkan. Iklim otonomi daerah yang ada, mendorong masing-masing daerah untuk berpacu menghasilkan devisa terbesar bagi daerahnya. Daya dukung Pemerintah Daerah untuk memprioritaskan taraf hidup atlet dan mantan atlet khususnya yang berangkat dari daerah masing-masing menjadi salah satu faktor penting untuk memberikan jaminan kehidupan yang layak bagi atlet dan mantan atlet di masa yang akan datang.

Pada akhirnya, sukses dan tidaknya penyelenggaraan Asian Games XVIII merupakan tanggung jawab bersama elemen bangsa. Memberikan support bagi atlet yang berlaga juga merupakan bentuk dukungan yang dapat dilakukan oleh setiap warga negara. Apalagi dengan dibarengi spirit perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Penulis yakin, etos pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan jika tertanam pula pada jiwa atlet dapat menghasilkan torehan prestasi yang diperhitungkan oleh dunia internasional. Mari dukung bersama Asian Games 2018, semoga Allah SWT. Meridhoi. #dukungbersama #asiangames2018.    


Suatu saat, tanpa sengaja saya mendengarkan nasihat ‘Kyai’, yang kebetulan juga ayah saya. Ketika itu beliau menyampaikan secara tidak langsung kepada saya, namun di hadapan para guru dan kyai yang sedang bersilaturrahmi kepada beliau. Tadinya saya enggan menuliskan ini dalam dunia digital. Namun tidak ada maksud lain kecuali sebagai etika ‘santri’ yang dalam ‘Ta’limul Muta’alim’ selalu berbekal kertas dan bolpoin untuk mencatat ilmu baru kala mendengar, melihat atau mengalami (kayak saksi, he he).


Tema awalnya “Tawadhu’”, dalam pengertian umum tidak menyombongkan diri baik di hadapan manusia maupun khususnya di hadapan Allah. Beliau berkata “Seorang pengajar (termasuk seperti saya), pada dasarnya tidak membuat santri menjadi pandai, tidak pula mensukseskan santri melalui apa yang diajarkan. Pinter dan suksesnya santri adalah karena Allah. Pengajar tidak lebih hanya menambahi ilmu saja, karena sejak lahir Allah sudah membekali setiap makhluk Nya dengan apa yang disebut “Purwaning Waseso”. Beliau lantas menambahkan, “Tidak bisa dibayangkan jika seorang bayi tidak dibekali “Purwaning Waseso”, bagaimana dia bisa bertahan hidup? Bahkan seekor anak sapi yang baru lahir sekalipun, dia sudah dibekali ilmu oleh Allah. Darimana dia tahu tempat dia menyusu kepada induknya jika tidak ada Ilmu dari Allah.” Demikian beliau mengungkapkan.

Terus terang saya jadi GR dengan apa yang beliau sampaikan. GR saya merasa bahwa itu sebenarnya nasihat khusus untuk saya. Sebab saya hafal betul, dialektik dengan pendekatan contoh konkrit di atas, sering ditujukan kepada ‘santri’ yang menyimpan pertanyaan (“Masak Iya?”) dalam benaknya. Termasuk saya. He he. Skak Mat!!! Namun saya sadar, itulah kelemahan saya.

Lebaran lalu, saya didatangi alumni-alumni yang sekarang sudah jadi “Kyai”. Aji mumpung, saya coba bertanya kepada mereka, siapa yang memberi Anda gelar Kyai? Bilamana orang disebut Kyai? Terdiam cukup lama dan tidak ada jawaban. Lalu, saya coba melempar clue, kalau gelar akademik, setahu saya bisa ditempuh melalui jalur akademik pula. Namun gelar Kyai menurut saya adalah gelar yang disematkan oleh masyarakat (gelar sosial). Bila ada yg lebih tahu monggo saya juga diberitahu jawabnya.

Berbekal pitutur Kyai di atas, saya sampaikan kepada senior-senior saya tersebut supaya jangan sampai punya rasa “sok”. Terlebih sok menjadi Kyai. Itung-itung “Tutur Tinular”. Semoga bermanfaat.


Sumber Ilustrasi : Link


Kisah Ken Arok dan Tunggul Ametung yang tenar dalam berbagai tulisan cerita rakyat sebenarnya menjadi gambaran tersendiri dalam kancah politik di Indonesia. Dalam kisah itu, tergambar proses perebutan kekuasaan yang berakhir dramatis dengan terbunuhnya Tunggul Ametung. Adalah Keris Empu Gandring, demikian senjata yang digunakan oleh Ken Arok untuk menghabisi nyawa Tunggul Ametung kala itu. Keris itu pula yang mengantarkan Ken Arok bertahta di singgasana Tumapel. 

Jika ditarik benang merah, kisah itu sebenarnya telah memberikan pelajaran berharga bagi kalangan politisi di negeri ini. Betapa tidak, di zaman kerajaan yang menganut sistem dinasti, waris tahta akan mengalir lurus kepada keturunan-keturunannya. Demikian halnya dengan sistem politik demokrasi langsung yang kini diterapkan di Indonesia. Mereka yang menduduki 'Keprabon' adalah yang mendapatkan legitimasi dukungan suara rakyat terbesar. 

Ken Arok dengan cara berpolitiknya, politisi kini pun berhak memilih caranya. Baik Ken Arok maupun politisi modern saat ini berorientasi sama, yakni kekuasaan (baca: Jabatan Publik). Namun yang perlu digaris bawahi adalah bahwa cara-cara yang diterapkan oleh politisi mutlak hak masing-masing individu untuk menentukan. Dengan cara yang baik atau harus menggunakan cara 'kotor' yang sama sekali tidak mencerminkan jiwa kesatria.

Dalam kisah Ken Arok, dia menunjukkan cara yang benar-benar massive dan terstruktur. Bermula dari pendekatan pribadi Ken Arok dengan Ken Dedes hingga berujung penggulingan tahta Tunggul Ametung. Namun rakyat kala itu tetap mengakui bahwa waris yang sebenarnya adalah Tunggul Ametung. Karena dialah yang mendapatkan mandat sah. Bagaimana dengan Ken Arok yang berkuasa? 

Penulis menganggap fenomena itu sebagai dinamika politik. Keberhasilan Ken Arok menduduki tahta Tumapel saat itu merupakan goal terbaik jika dipandang dari sisi tujuan politik secara pragmatis. Namun jika dilihat dari sudut pandang prosedural, cara yang diambil oleh Ken Arok tidak mencerminkan moralitas luhur adat ketimuran.

Tak berbeda dengan kisah Ken Arok, situasi dan kondisi politik saat ini juga mengarah pada pilihan dua cara itu. Meraih goal politik secara benar atau menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan moral dan hati nurani. Jika goal yang ingin dicapai sebatas kemenangan yang tak dapat dipertanggungjawabkan legitimasinya, maka tidaklah perlu bersusah payah kesana kemari penggalangan massa. Namun jika tujuan politik benar-benar menegakkan demokrasi dan jati diri legitimasi rakyat padanya, maka sudah sepatutnya rakyat sebagai subyek dan obyek perlu didekati dengan sentuhan 'magic' politisi. Tentunya semua cara itu memiliki konsekuensi tersendiri.

Lantas mengapa Ken Arok saat itu harus memilah dan memilih sehingga menentukan senjata Keris Empu Gandring untuk menggulingkan Tunggul Ametung? Jawaban simpelnya karena Tunggul Ametung juga bukan orang sembarangan (Termasuk orang sakti mandraguna), maka perlu senjata yang juga sakti mandraguna pula. Empu gandring terkenal sebagai Empu yang linuwih dan memiliki keahlian pembuatan senjata hebat zaman itu. Maka tidak ragu Ken Arok menjatuhkan pilihan Keris Empu Gandring sebagai senjatanya. 

Seorang Empu adalah kalangan brahmana yang terkenal hebat dalam melakukan tirakat. Dalam bahasa Islam dikenal sebagai 'Riyadloh'. Sehingga sangat wajar bilamana orang yang ahli tirakat memiliki kedekatan dengan Sang Pencipta. Karena dia diberikan kelebihan khusus yang tidak dimiliki sembarang orang. Mengapa Ken Arok mendekat dengan Empu Gandring? Tentu salah satu alasannya adalah anggapan mustajabahnya doa Sang Empu jika dibanding Ken Arok sendiri yang menjalaninya. Dalam bahasa Islam nya 'Wasilah'.

Konteks saat ini, orang-orang yang memiliki kelebihan khusus dibanding orang pada umumnya adalah Ulama. Al Ulama Warotsatul Anbiya. Ulama adalah waris dari para Nabi. Jadi suksesnya politisi tidak terlepas dari campur tangan faktor non teknis yang juga sangat menentukan. Yakni doa para Ulama (Kyai). Kecuali bilamana seorang politisi sudah menentukan caranya sendiri yang tidak percaya dengan hal yang demikian ini. Apalagi sudah merasa paling tinggi dibanding siapa pun di dunia ini. Naudzubillah Min Dzalik.

Hal yang perlu diingat oleh seorang calon pemimpin adalah masyarakat yang dipimpin kelak tidak sebatas masyarakat yang kasat mata saja. Namun juga masyarakat yang tak kasat mata (ghoib). Jadi tidak serta merta cara yang digunakan (baca:Model Kepemimpinan) hanya sebatas menggunakan cara pelayanan publik yang kasat mata saja. Lebih dari itu, pendekatan pelayanan pada masyarakat yang tak kasat mata juga perlu dilakukan. Sebab percaya pada hal yang ghoib termasuk bagian dari unsur keimanan. Ken Arok dalam ceritanya juga telah melakukan hal seperti ini. Karena dirinya merasa tak mampu menembus hal-hal yang demikian itu, dirinya pun menggunakan cara pragmatis dengan mendekati orang yang menurutnya memiliki kelebihan.

Maka tidak salah jika kalangan Nahdliyin sudah memahami falsafah tersebut. Sebab pada era KH. Hasyim Asy'ari sudah dicontohkan struktur Tanfidziyah sebagai unsur birokratif dan Syuriah dari unsur Kyai yang memiliki fungsi kontrol agar dapat memberikan pitutur kepada Birokrasi. 

Terlebih dalam rangka mengikuti kontestasi politik, doa para Ulama mutlak menjadi hal terpenting agar dapat menyatukan unsur agama dan politik. Termasuk pada hal-hal prinsip yang tidak setiap orang mampu mengetahuinya. Meskipun hal ini tidak lantas meninggalkan cara-cara duniawi yang harus pula ditempuh.  Menjadi sangat penting bagi politisi untuk mewaspadai pergerakan non struktural yang cenderung massive agar tidak kecolongan dalam perolehan suaranya.


Sumber Ilustrasi : Link

Pendiri Jam’iyyah besar di Indonesia serta sarat dedikasi kepada bangsa dan negara, itulah gambaran kecil kiprah yang dilakukan oleh KH. Hasyim Asy’ari. Tokoh kharismatik dan memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa. Penulis tidak hidup di era beliau, Penulis pun tak berjumpa langsung dengan beliau, namun sebatas cerita dan referensi yang Penulis telusuri, cukup memberikan motivasi tersendiri. Bahkan hanya sebatas rujukan referensi, dapat menggugah bayangan seolah-olah berada di zaman beliau.

Sedikit yang Penulis garis bawahi dari apa yang dilakukan oleh beliau, adalah betapa tulus beliau memberikan ‘darah dan keringat’ nya untuk bangsa dan negara. Tanpa pamrih dan sama sekali mengharapkan secuil balasan dari negara. Beliau hidup di era perjuangan merebut kemerdekaan, dengan keterbatasan media, sarana dan prasarana. Namun beliau, di tengah kondisi yang memprihatinkan saat itu justru melakukan gebrakan luar biasa yang membekas hingga ke anak keturunan bangsa Indonesia.

Perebutan kemerdekaan hingga mengantarkan diproklamasikannya kemerdekaan bangsa Indonesia. Pertanyaan mendasar, sebenarnya apa yang beliau harapkan? Kesejahteraan? Benar, (mungkin) salah satu harapan yang dicita-citakan beliau adalah kesejahteraan. Untuk siapa? Tentunya secara umum untuk bangsa dan negara Indonesia. Mengapa tidak untuk pribadi dan keluarga? Sejauh yang Penulis ketahui, jika yang dilakukan oleh beliau sebatas untuk kepentingan kesejahteraan pribadi dan keluarga, tanpa bersusah payah mengorbankan jiwa dan raga pun dapat beliau lakukan.

Faktanya, rasa sejahtera dirasakan oleh generasi bangsa Indonesia saat ini. Tidak terkecuali pula apa yang dirasakan oleh Penulis. Teramat naif jika hidup di tengah kesejahteraan dengan sarana dan prasarana cukup, hanya mengungkapkan rasa kagum dan terima kasih pun tak dilakukan.

Konsep keikhlasan yang beliau ajarkan tidak hanya sebatas ajaran. Keikhlasan yang beliau tunjukkan digambarkan dalam tindakan yang nyata. Ibarat membuang sampah, tidak berharap lagi sampah kembali kepada kita, tanpa penyesalan dan tanpa harapan. Begitu pun dengan yang dilakukan oleh beliau. Melakukan tindakan tanpa berharap kembali apa yang dilakukan.

Semoga di tengah kemajuan peradaban, muncul warisan nilai keikhlasan yang dilakukan dan ditunjukkan oleh KH. Hasyim Asy’ari kepada kita dan generasi mendatang. Pengorbanan (tirakat) yang dilakukan menunjukkan betapa besar perjuangan yang dilakukan demi bangsa dan negara. Al Fatihah.

Image result for pluralitas ham
Sumber Ilustrasi: Link

Negara hukum (rechtstaat) menempatkan sendi-sendi hak asasi manusia sebagai fundamen kenegaraaan yang tak bisa tergantikan. Tuntutan negara hukum menghendaki adanya dinamika kehidupan berkebangsaan yang memanusiakan manusia. Inilah yang lantas diejawantahkan sebagai Hak asasi manusia. 

Dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia, hak-hak dasar tersebut eksplisit tertuang dalam konstitusi sebagai suatu fundamental right yang non derogable. Sebagai suatu implikasi, secara filosofis tersurat bahwa hukum mencover nilai-nilai kemasyarakatan yang tidak lain menempatkan perlindungan terhadap hak kemanusiaan. Inilah yang kemudian di break down dalam sistem ketatanegaraan dan sistem hukum. 

Bangsa Indonesia ber nafaskan Bhineka Tunggal Ika. Sedangkan Bhineka sendiri mengandung makna pluralisme. Pasal 28 UUD 1945 membingkai penghormatan terhadap sebuah perbedaan. Perbedaan termasuk penerapan nilai non diskriminatif. Hak Asasi Manusia menjunjung tinggi kebebasan dalam perbedaan. Beranjak dari kesadaran berpikir kemanusiaan inilah yang menjadi ruh dan jiwa pengembangan keberdayaan. Budaya sadar akan pentingnya penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia setidaknya sudah tidak menjadi barang basi yang lampau tertinggal waktu. Lebih dari itu, kesadaran akan nilai-nilai dasar kemanusiaan mengandung penjiwaan yang sangat luas. Dari sisi kenegaraan, Hak asasi manusia termasuk dalam hak konstitusional. Oleh karenanya, sadar menghormati Hak Asasi manusia mencerminkan kesadaran berkonstitusi. Secara yuridis, skema peraturan perundang-undangan menaruh sebuah amanah berupa kewajiban untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Nilai yang tidak lain juga kembali pada Hak asasi manusia. Dari sisi sosio kultural, adat ketimuran menghendaki adanya tepo seliro, toleransi dan saling menghormati eksistensinya sebagai manusia. 

Secara kodrati, manusia sebagai makhluk sosial selalu membutuhkan jaringan interaksi sosial antar sesama manusia. Kondisinya yang kommunal menunjukkan adanya sebuah pola ketergantungan yang tak terpisahkan. Dalam kehidupan kommunal tersebut tergambar sebuah kebersamaan. Namun kadangkala tak terpikirkan oleh kita mengapa kebersamaan dalam dinamika sosial itu justru terjalin demikian eratnya?bahkan rasa persaudaraan cenderung mengembang. Satu hal yang terlupakan, bahwa dibalik semua itu terbingkai nilai-nilai luhur yang kadang sama sekali tak terpikirkan. Adalah sebuah PERBEDAAN. Sebuah kekayaan yang tak ternilai dan sebuah nilai yang tak terdeskripsikan. Perbedaan sebagai sebuah dinamika kemanusiaan yang menjunjung tinggi penghormatan. Tiada penghormatan bila tak ada perbedaan. Sebagai contoh, ketika terdapat keseragaman corak baju, maka nilai yang terbesit pada baju yang satu dengan baju yang lain bisa sama. Bahkan lebih buruk. Akan tetapi bila terdapat faktor pembanding berupa baju yang berbeda maka akan muncul sebuah penilaian yang berbeda dan bisa lebih dinamis. 

Perbedaan yang kemudian tergambar dalam kondisi pluralitas menunjukkan adanya pengakuan atas hak dasar berkemanusiaan yang mendalam. Betapapun nilainya, pluralitas sangat esensial dalam membangun pencitraan, baik secara individual maupun kolektif. Nuansa penghormatan inilah yang sedianya merupakan wujud konkrit penerapan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Oleh karenanya, banggalah kita yang hidup dalam iklim perbedaan. Berbesar hatilah kita yang berada di tengah-tengah pluaralitas. Pluralitas sebagai wujud simbol penghormatan Hak Asasi Manusia.

MKRdezign

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget